25
Jul
08

Naek Ini Tentu Mati

Setengah abad lamanya Betawi memiliki alat angkutan umum yang aneh. Pokoknya, layak dimasukkan ke believe it or not-nya Tuan Ripley. Alat angkutan ini adalah trem yang dijalankan dengan uap dalam kaleng. Jadi, bukan trem uap biasa, yang lokomotifnya dijalankan oleh mesin uap seperti layaknya kereta api.

Pada trem uap biasa, loknya diisi air lalu dipanaskan dengan api batu bara atau api kayu sehingga air itu menjadi uap. Uap itu kemudian dipakai sebagai tenaga untuk menggerakkan trem.

NITM

NITM - Batavia

Tidak demikian dengan trem Betawi satu ini. Loknya terdiri atas sebuah ketel yang disebut remise. Di pangkalannya di Kramat, remise ini diisi dengan uap yang sudah jadi yang memiliki tekanan tertentu. Dengan berbekal uap kalengan ini dalam perutnya, sang trem kuat untuk ‘narik’ dari Kramat ke Kota, kemudian kembali lagi dari Kota ke Kramat, terus ke Meester Cornelis (Jatinegara) dan kembali kepangkalannya untuk ‘mengisi perut’ dengan uap kalengan lagi.

Tidak jelas siapa penemu sarana angkutan ini. Tidak jelas pula apakah ia diimpor atau dirakit di negeri ini. Yang jelas trem yang dijalankan dengan uap kalengan ini bukan penemuan yang sempurna.

Di musim hujan, apabila air terus-menerus tercurah dari langit sehingga suhu udara cukup dingin, uap kalengan itu cepat mendingin, sehingga tenaganya loyo lalu mogok ditengah perjalanan. Bahkan di musim kemarau pun, kadang-kadang kekuatannya tidak memadai untuk menghela gerbong-gerbongnya melintasi jembatan Kramat (pada akhir abad XIX antara Kramat Bunder dan Kwitang ada sebuah jembatan).

Trem uap ini memulai sejarahnya tahun 1881. Perusahaan Duemmler yang mengusahakan trem kuda, mendapat konsesi untuk mengelola trem uap ini. Mula-mula mereka memanfaatkan jalan trem kuda yang kemudian berangsur-angsur diganti sampai rampung tahun 1884. Untuk peremajaan itu, perusahaan baru dibentuk dengan nama NITM (Nederlandsh Indische Tramweg Maatschappij).

Trem uap ini mempunyai tiga trayek. Yang pertama dari Jakarta Kota ke Harmonie. Yang kedua dari Harmonie lewat Rijswijk Zuid, melewati kantor pos pusat dan Istana Weltevreden (Lapangan Banteng) sampai Kramat. Yang ketiga dari Kramat sampai Meester Cornelis (Jatinegara).

Kehadiran trem uap ini awalnya disambut hangat. Trem uap dianggap alat angkutan umum modern, yang diharapkan memberikan kenyamanan. Ternyata popularitasnya tidak berlangsung lama. Keluhan bermunculan, katanya kendaraan itu terlalu ingar bingar mengganggu ketentraman dan ketertiban kota. Yang paling gawat trem ini sering menimbulkan kecelakaan. Ia pernah dijuluki ‘pembunuh terbesar yang berkeliaran di kota Betawi’. Soalnya, suatu saat ia pernah menelan korban selang empat jam sekali. Orang Betawi yang senang bergurau lantas memakai inisial NITM untuk berolok-olok : Naek Ini Tentu Mati.

Entah apa yang menyebabkan kecelakaan-kecelakaan itu. Penulis-penulis masa itu tidak menceritakannya dengan jelas. Padahal langkah-langkah pengamanan yang dikeluarkan secara khusus oleh pihak kepolisian untuk trem uap kelihatannya sudah memadai. Umpamanya saja, peralatan trem uap harus memenuhi syarat, kecepatannya tidak boleh melewati 15 km/jam.

Apakah masinisnya senang ngebut seperti sebagian supir bus zaman sekarang ? Apakah kendaraan lain terlalu lamban untuk mengimbangi kecepatan trem yang 15 km/jam itu ?

Diputuskanlah agar trem mengalah, dengan mengurangi kecepatannya. Pihak NITM melakukan kasak-kusuk untuk meniadakan peraturan yang menghambat itu. Mereka berhasil. Konon, kecelakaan meningkat lagi.

Kemudian tahun 1901 diperkenalkan trem listrik yang mengambil rute Kramat-Pengarengan-Menteng-Kampung Lima-Tanah Abang-Harmonie. Muncul pula oplet, taksi, dan kendaraan lain yang lebih cepat dan lebih nyaman. Namun trem uap yang sering ngos-ngosan dan dikutuk ini tetap gigih merayapi jalan-jalan ibu kota.

Ajalnya baru tiba pada tanggal 30 September 1933, ketika sang trem uap menghembuskan uapnya yang terakhir. Esoknya, 1 Oktober 1933, seluruh jaringan trem di Betawi sudah dilistrikkan.

Buntutnya masih ada. Pimpinan perusahaan BVM (Bataviasche Vervoersmaatschappij, moyangnya PPD) ingin menawarkan sebuah lok uapnya yang konon kemahsyurannya sampai ke Amerika kepada Museum Gajah. Maksudnya untuk kenag-kenangan bagi generasi mendatang. Namun tawaran itu ditolak. Mana ada tempat buat monster seperti itu di antara arca-arca dan perselin ?

Sayang, dulu belum ada museum kereta api yang sekarang ada di Ambarawa. Mungkin bisa diselipkan disini, walaupun kereta uap kalengan itu sebuah trem kota. Lok tertua yang diperagakan di Ambarawa ketika tulisan ini dibuat, dirakit pada tahun 1891, lebih muda dari sang monster.

Sumber : Ketoprak Betawi, “Naek Ini Tentu Mati”, PT. Intisari Mediatama, 2001


0 Responses to “Naek Ini Tentu Mati”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Kategori

Pengunjung

Blog Stats

  • 396,678 hits

Yang Lagi Baca Cingciripit

website stats

Yahoo! ID : king_mercury95

Kalendar

Juli 2008
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Arsip


%d blogger menyukai ini: