09
Jun
08

Jejak Sang Proklamator di Kota Bandung

https://i2.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/c5/Soekarno.jpg

Akhir Juni 1921, seorang pemuda berpakaian serba putih dengan peci beludru hitam, turun dari kereta api Surabaya di Stasiun Bandung. Tak banyak yang memperhatikan pemuda perlente itu, kecuali beberapa orang yang akan menjemputnya. Pemuda yang bernama Kusno Sosrodihardjo ketika lahir itu menginjakkan kakinya di Tatar Parahyangan untuk meneruskan sekolahnya di Technische Hogenschool (THS) setelah lulus HBS di Surabaya.

Di THS, Soekarno mengambil jurusan Teknik Sipil, beliau termasuk angkatan pertama orang pribumi yang belajar di sekolah teknik terkemuka di wilayah Hindia Belanda saat itu. (Soekarno tercatat sebagai mahasiswa nomor 55 di THS). Selama di Bandung Soekarno tinggal (kost) di rumah ibu Inggit Garnasih -yang kelak menjadi istrinya-, di Jalan Ciateul no 8. (sekarang jalan Inggit Garnasih).

Sebagai mahasiswa THS yang mahir merancang bangunan, sejumlah ide-ide cemerlang Soekarno dalam seni arsitektur pun menghiasi sudut kota Bandung. Namun, saat ini dari 35 bangunan yang menjadi jejak karya arsitektur Soekarno, tidak semuanya utuh. Bahkan ada yang telah berubah wujud.

Karya arsitektur Soekarno memiliki ciri khas sendiri yang membedakan dengan karya -karya arsitek lainnya. Ciri itu dengan mudah dikenali saat melihat hiasan yang berada di atap bangunan. Sebentuk gada dan hiasan batu alam pada dinding bangunan selalu dipakai Soekarno saat membangun sebuah rumah tinggal.

Gada tersebut merupakan simbol dari sosok Bima yang begitu dikagumi Soekarno. Dalam pewayangan tokoh Bima selain mempunyai senjata pamungkas berupa Kuku Pancanaka, juga mempunyai senjata berupa gada yaitu Rujak Polo Lukitasari.

Bentuk gada yang dipakaipun sangat beragam, tidak terpaku pada bentuk yang sama. Bentuk kotak lebih banyak ditemukan, namun pada setiap bangunan terdapat perbedaan jumlah kotaknya. Ada yang tunggal seperti terlihat pada bangunan di selatan pendopo kabupaten. Sementara deretan rumah di jalan Kasim (dibangun tahun 1925), memiliki dua dan tiga undakan. Yang lebih mirip gada Lukitasari dapat disaksikan di jalan Dewi Sartika no 107 (1921).

Selain bangunan tempat tinggal, Soekarno bersama Guru Besar mata kuliah Seni Bangunan dan Sejarah Arsitektur, Prof. Ir. CP Wolf Schoemaker – Raja Arsitek Kota Bandung-, ikut merancang Hotel Preanger dan Kompleks penjara Sukamiskin, yang dikemudian hari sempat dihuninya selama satu tahun.

Pada tanggal 25 Mei 1926, bersama dengan dua kawannya sesama orang pribumi, Rooseno dan Anwari, Soekarno berhasil menyelesaikan studi di THS dan berhak menyandang gelar Ingenieur. Kelak saat beliau menjabat sebagai Presiden RI, almamaternya yang semula bernama THS itu, diresmikannya dengan nama baru : Institut Teknologi Bandung.


0 Responses to “Jejak Sang Proklamator di Kota Bandung”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Kategori

Pengunjung

Blog Stats

  • 396,678 hits

Yang Lagi Baca Cingciripit

website stats

Yahoo! ID : king_mercury95

Kalendar

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Arsip


%d blogger menyukai ini: