02
Mar
08

Buku Haryoto Kunto, Bukan Sekadar Nostalgia

Sekitar tahun 2000 aku pernah menanyakan mengenai buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe ini langsung ke PT Granesia, salah seorang stafnya saat itu bilang bahwa buku ini akan akan dicetak ulang dalam waktu dekat. Sampai pertengahan 2001 ternyata buku ini belum juga diterbitkan ulang. Saking ngebetnya memiliki buku ini aku hunting di pasar buku palasari Bandung. Dapat yang asli meskipun dengan harga yang cukup mahal🙂

Delapan tahun berselang, akhirnya buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe dicetak ulang, berikut beritanya yang aku kutip dari PR. Sayang aku tidak bisa mengunjungi mall PvJ karena hari itu aku giliran jaga di kantor😦

[ http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=14035 ]

MEMASUKI Maret 2008, Penerbit Buku PT Granesia Bandung kembali menerbitkan buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe karya almarhum Haryoto Kunto, “kuncen Bandung”. Buku tersebut diterbitkan pertama kali tahun 1984 oleh penerbit yang sama.

“Dengan terbitnya buku ini, mudah-mudahan bisa menghentikan peredaran buku bajakan Wajah Bandoeng Tempo Doeloe,” ujar istri almarhum Haryoto Kunto, H. Etty R. Haryoto Kunto kepada “PR”, di sela-sela peluncuran buku tersebut, di Pusat Perbelanjaan Paris van Java, Jln. Sukajadi Bandung, Sabtu (1/3).

Menanggapi hal tersebut, Direktur Penerbit Buku PT Granesia Bandung, Joko Hendrarto mengatakan, pihaknya akan mengusut masalah pembajakan buku tersebut dan buku-buku lainnya karya almarhum Haryoto Kunto. “Beredarnya buku bajakan tersebut bukan hanya merugikan pihak penerbit, tetapi juga merugikan pihak pengarang selaku penulis buku,” ujar Joko.

Pada peluncuran buku tersebut, juga digelar bedah buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, dengan menghadirkan Dirut Pikiran Rakyat H. Syafik Umar, Kepala Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kota Bandung Ir. Juniarso Ridwan, M.Si., Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Drs. Asykari, kemudian Frances B. Affandi dari Bandung Heritage, dan Etty R. Haryoto Kunto. Acara dipandu Direktur Pemasaran Pikiran Rakyat H. Januar P. Ruswita. Mereka sepakat bahwa buku tersebut sangat monumental dan mampu mengisahkan Bandung tempo dulu dengan bahasa yang jernih, serta enak dibaca.

Digelarnya bedah buku bersamaan dengan peluncuran buku itu, cukup menarik perhatian karena masing-masing pembicara tidak hanya membahas apa dan bagaimana isi buku tersebut, tetapi juga berbicara pula tentang apa dan bagaimana sikap Pemerintah Kota Bandung dalam menangani beberapa daerah di Kota Bandung yang masuk kawasan cagar budaya.

Selain itu, digelar pula acara fashion show batik Danarhadi karya perancang busana Ian Suhadi, pameran buku Perpustakaan Prof. Dr. Dodi Tisna Amidjaja, pameran buku Yayasan Haryoto Kunto, pameran sepeda onthel, pameran foto, pameran barang-barang kuno dari Ki Sunda, dan beberapa acara lainnya.

Menurut H. Syafik Umar, apa yang ditulis Haryoto Kunto menarik untuk disimak, karena kandungan isinya memberikan wawasan yang cukup luas kepada para pembaca. “Ini menunjukkan Haryoto adalah orang yang haus bacaan. Apa yang dibacanya tidak ditelan sendiri, tetapi dibagikan kepada orang lain melalui tulisannya. Saya yakin, jika Haryoto Kunto masih hidup, pasti akan lahir tulisan-tulisan lainnya tentang Kota Bandung,” ucapnya.

Menurut Etty, berdasarkan keterangan dari Us Tiarsa, teman Haryoto sejak kanak-kanak, suaminya itu memang haus bacaan sejak duduk di SD. Jika sedang main kelereng, pada saat temannya bermain, Haryoto berhenti sejenak, dan memanfaatkan waktu tersebut untuk membaca buku.

“Ketika masih hidup, Mas Haryoto mengatakan berkali-kali bahwa artikel dan buku-bukunya yang ditulis selama ini, hanya diterbitkan untuk Pikiran Rakyat dan Penerbit Buku PT Granesia. Jadi, saya siap bekerja sama dengan PT Granesia untuk menerbitkan buku Mas Haryoto Kunto lainnya, termasuk yang sudah diterbitkan sebelumnya, seperti buku Semerbak Bunga di Kota Bandung,” katanya.

Kepala Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kota Bandung Ir. Juniarso Ridwan, M.Si. mengatakan, buku-buku karya Haryoto Kunto banyak dimanfaatkan H. Ateng Wahyudi yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Bandung dalam menentukan kebijakan pembangunan di Kota Bandung. Maka menjadi penting diterbitkannya kembali buku tersebut, bukan hanya sebagai referensi, tetapi juga sebagai sumber renungan dalam memahami apa dan bagaimana Kota Bandung dengan kawasan cagar budayanya. Saat ini, paling tidak, Pemkot Bandung telah mendata 550 rumah dan bangunan yang masuk kawasan cagar budaya.

“Akan didata ulang jumlahnya, termasuk peruntukannya. Malah, untuk mengembalikan Kota Bandung sebagai kota eksotik, Pemkot Bandung telah merencanakan kawasan Jln. Braga untuk dibongkar dan dilapisi dengan batu andesit. Insya Allah akan dilakukan tahun 2008,” katanya.

Bukan sekadar nostalgia

Direktur PT Granesia, Joko Hendrarto berpendapat, diterbitkannya kembali buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe tidak dimaksudkan sekadar album nostalgia, tetapi diharapkan bisa menjadi salah satu alternatif sumber informasi mengenai pelestarian Kota Bandung. Sebab, banyak gedung, bangunan, monumen atau objek bersejarah sisa peradaban masa lalu yang patut dilindungi dan diselamatkan. “Selain itu, agar generasi muda tetap bisa mengenal identitas dan menggali asal-usul Kota Bandung dengan membaca buku ini, karena buku ini juga mengungkap sejarah masa lalu Priangan secara gamblang,” tuturnya.

Gelar “kota kembang” untuk Kota Bandung pun, menurut Joko, berdasarkan buku Haryoto Kunto ternyata tidak berarti dalam pengertian yang sebenarnya. Pada akhir abad ke-19, tepatnya tahun 1896, Bandung mendadak mendapat kehormatan sebagai tempat penyelenggaraan kongres pertama Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula yang berkedudukan di Surabaya.

“Meneer Jules Schenk, seorang Preangerplanter yang royal, memboyong segudang noni-noni Indo-Belanda yang cantik-cantik untuk menghibur peserta kongres. Kongres ini sukses besar. Nah, lewat mulut peserta kongres inilah, Bandung disebut sebagai “bunganya” Kota Pegunungan di Hindia Belanda. Yang belum jelas adalah, apakah gelar tersebut ditujukan untuk Kota Bandung ataukah untuk noni-noni itu,” tutur Joko yang disambut gelak tawa sejumlah undangan.

Sementara itu, Wali Kota Bandung H. Dada Rosada dalam sambutan tertulis yang dibacakan Juniarso Ridwan mengatakan, buku yang ditulis almarhum Haryoto Kunto memberikan inspirasi tak terkira bagi pembaca dan pemerintah Kota Bandung dalam menata Kota Bandung yang dari tahun ke tahun mengalami berbagai perubahan. (Soni Farid Maulana/”PR”/Windy)***


2 Responses to “Buku Haryoto Kunto, Bukan Sekadar Nostalgia”


  1. 1 rosadadada
    Sabtu, 26-Juli-2008 pukul 5:39 pm

    Ass. Wr. Wb.,

    Mohon doa restunya..

    No1 Dada Rosada-Ayi Vivananda

    Pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Bandung 2008-2013

    Wass. Wr. Wb.

  2. 2 rudi
    Jumat, 16-April-2010 pukul 3:18 pm

    saya termasuk salah satu penggemar buku Mas Haryoto Kunto,namun sayang, saya hanya memiliki satu buku karya Mas Kunto ini yaitu Ramadhan di Priangan, sementara Bandoeng Tempoe doeloe, sampai hari ini masih menjadi angan2 saya untuk memilikinya,karena kala itu masih sangat mahal harganya. sebagai pemberitahuan saja, sayapun termasuk yang konsen (walau sendirian di rumah) mengumpulkan foto2 Bandoeng Jaman Baheula (Bandoeng Doeloe), karena saya seneng sekali sejarah, apalagi sejarah Bandung tempat kelahiran saya. Karena itu sebuah ide yang cemerlang, jika buku tersebut telah diterbitkan lagi (berhubung saat ini saya sudah tidak tinggal di Bandung lagi) maka, baru tahu jika buku Mas Kunto sudah ada lagi edisi barunya. semoga dengan adanya buku Mas Kunto ini, Bandung bisa seasri dulu lagi, apalagi jika lihat setiabudi,pasar baru, an lainnya di tahun 1800-an wah sungguh sejuk dan indah.saya seolah ingin menikmati kota Bandung seperti di tahun 1800-an, namun apa daya Bandung saat ini sungguh menyedihkan, mana slogan Bandung Parij Van Java, Bandung Kota Kembang?, kini Bandung kota sampah, Kota FO (Factory Outlet) dan Bandung Kota Macet….. kepada para pejabat Pemkot bandung….tolong baca buku Mas Kunto deh, kayak Pak Ateng Wahyudi dulu, supaya ngerti harus dibagaimanakan Bandung yang tadinya sangat indah dan asri itu….terima kasih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Kategori

Pengunjung

Blog Stats

  • 396,678 hits

Yang Lagi Baca Cingciripit

website stats

Yahoo! ID : king_mercury95

Kalendar

Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Arsip


%d blogger menyukai ini: