06
Feb
08

Hallo Bandoeng, Hier Den Haag

https://i2.wp.com/home.luna.nl/~arjan-muil/radio/bandung.jpgTempo doeloe sebelum tahun 1923, antara Belanda dengan Nusantara, negeri jajahan di seberang lautan, belum ada hubungan komunikasi lewat media radio, telepon maupun telegraf apalagi internet. Berita antara kedua negeri yang dipisahkan oleh jarak sejauh l.k 12.000 km, cuma bisa disampaikan lewat surat pos. Surat pos dengan angkutan udara, paling tidak memakan waktu lebih dari 40 hari. Sedangkan jika dilakukan dengan menggunakan angkutan laut, surat baru sampai ke alamatnya paling cepat dua bulan kemudian.Masyarakat begitu tercengang ketika harian Preanger Bode di Bandung, memuat headline Verbinding Indie – Holland door de Lucht (Hubungan Nusantara – Negeri Belanda lewat Udara). Buat pertama kali, pembicaraan melalui Radio Telefoni, Holland-Nusantara diselenggarakan pada tanggal 5 Mei 1923. Suatu era baru dalam bidang teknologi komunikasi telah dimulai di Indonesia.

Semua itu tidak lepas dari jasa dan jerih payah Ir. G. J. de Groot yang telah merintis pembangunan instalasi Pemancar radio Telefoni di lereng Gunung Malabar – Bandung Selatan, selama lima tahun.

https://i1.wp.com/home.luna.nl/~arjan-muil/radio/telefoon.jpg

Dengan bersabar sekitar satu jam, menunggu sambungan pembicaraan lewat stasiun Pemancar Malabar, seorang Belanda di Bandung dapat langsung ngomong ngalor ngidul dengan handai tolan di Holland. Suatu pesona keajaiban yang memukau untuk ukuran saat itu.Berkenaan dengan dibukanya jalur hubungan Radio Telefoni antara dua negeri yang berjauhan itu, terungkap kisah yang mengharukan. Seorang ibu yang telah lanjut usia di Belanda, rindu dan kangen sekali kepada putra tunggalnya yang sedang berdinas di Nusantara.Dengan menyisihkan sebagian uang belanja bulanan, bunda yang budiman itu, memerlukan waktu satu tahun buat mengumpulkan biaya. Sekedar mencukupi ongkos tarif pembicaraan selama tiga menit, dengan putranya. Tatkala sambungan pembicaraan dengan anaknya didapat, ibu tersebut hanya bisu terpaku di muka mikrofon …. keburu habis waktu ! Di saat Injury Time sepenggal kalimat yang sempat terucap lewat mulut ibunda, cuma “Jongen lief, ik verlang zo erg naar jou!” (Anakku sayang, aku amat rindu padamu!)

Kisah yang mengharukan tersebut, berhasil mengilhami seorang komponis, sehingga lahirlah sebuah lagu di tahun 1923 itu dengan judul Hallo Bandoeng yang sempat ngetop di blantika musika, dengan penyanyinya , zanger idola noni-noni tempo doeloe, Willy Derby namanya. (Bukan lagu perjuangan Halo-Halo Bandung lho…)

Mengapa Hallo Bandoeng ? Karena Hallo Bandoeng merupakan call- sign dari pemancar radio Malabar.

Momen historis pembukaan Radio Telefoni Nusantara – Belanda tidak dilewatkan begitu saja. Untuk memperingati peristiwa bersejarah tersebut, Walikota Bandung B. Coops, meminta bantuan kepada arsitek Prof C.P. Wolff Schoemaker untuk merancang dan mendirikan monumen bersejarah di Tjitaroemplein (Taman Citarum).

Monumen berbentuk setengah bola dunia dengan dua patung pria tanpa busana berhadapan pada masing-masing sisinya. Sebuah patung seolah- olah sedang berbicara, sedangkan yang satunya sedang mendengarkan apa yang dibicarakan rekannya.

Keberadaan monumen ini banyak menarik perhatian orang. Kedua patung pria itu, bila disawang dari kejauhan yang terlihat menonjol cuma ….. pantatnya😆 Oleh sebab itu, warga Bandung tempo doeloe lebih senang menjuluki monumen itu sebagai Bloote Billen Plein alias Taman Pantat Bugil.

citarumplein.jpg

Warga Bandung sekarang tidak dapat melihat keberadaan Bloote Billen tadi, karena sekarang di lahan Taman Citarum digunakan untuk kompleks Mesjid Istiqomah. Tapi bagi yang penasaran ingin melihat patung bugil peninggalan jaman Belanda di Bandung, masih ada satu set patung (3 patung) lagi yang sampai saat ini tetap tegar berdiri menahan atap sebuah bangunan. Penasaran ?😆
Ketekunan Ir. G.J. de Groot, merancang instalasi stasiun radio Malabar selama lima tahun, membuahkan gelar Doktor di Delft, Belanda. Untuk mengenang jasa-jasanya, Gemeente Bandoeng telah mengabadikan nama beliau menjadi nama jalan, Dr, de Grootweg (jalan Siliwangi sekarang).

sumber :
Haryoto Kunto, “Wadjah Bandoeng Tempo Doeloe”, Granesia, 1984;
kitlv.nl

[bagi yang sangat penasaran mencari 3 patung yang disebutkan di atas, silakan mengubek kota Bandung, sekalian jalan-jalan, jangan main ke mall atau FO melulu. Sedikit petunjuk, ketiga patung ini berada dibagian atas sebuah bangunan, bukan di permukaan tanah.]


11 Responses to “Hallo Bandoeng, Hier Den Haag”


  1. 1 Sembudi
    Rabu, 6-Februari-2008 pukul 3:17 pm

    hebat, informasina meunang wae euy…

  2. Senin, 9-Juni-2008 pukul 3:11 pm

    patung lainnya yang masih ada di atas gedung Jaarbeurs kan?
    Patung 3 atlas.

  3. Senin, 9-Juni-2008 pukul 3:48 pm

    @Bandung Tempo Doeloe aka jackdelab
    Anda benar sekali, memang itu yang dimaksud.

    btw, blog anda sangat bagus, ditunggu update-annya🙂

  4. Senin, 8-September-2008 pukul 3:34 pm

    Insya Allah tahunmendatang kami akang mengadakan kegiatan Festival Gunung Puntang 2009 yang untuk pertama kalinya diadakan. Mohon kira masukan dari Anda apa yang harus kami lakukan lagi untuk kembali “menghidupkan” Radio Malabar.

    Saya tunggu kabar dari Anda.

  5. Senin, 8-September-2008 pukul 5:02 pm

    Aduh Kang Endro, gak salah nih minta masukan ke aku ?
    Terus terang aku mah langsung bingung diminta masukan seperti ini😀

    Coba akang kontak ke teman-teman di Bandung Heritage di

    Jl. RE. Martadinata No.209 Bandung 40114
    Telepon 022 7234661

  6. Selasa, 9-September-2008 pukul 2:42 pm

    Wah… si akang mah merendah diri.
    Nantio kontak kesiapa?

    Tks

  7. 8 diki
    Minggu, 18-Januari-2009 pukul 1:44 am

    patung yang tiga, yang terletak di Jaarsbeur (sekarang sih Kologdam) juga udah ngak telanjang lagi Mas, udah di tembok bagian bawahnya, jadi ngak keliatan deh………

  8. 9 diki
    Minggu, 18-Januari-2009 pukul 1:55 am

    Tambahan lagi Mas Didit, bangunan radio dorf (setasiun pemancar Malabar) yang di Gunung Puntang sekarang udah ngak ada, yang tersisa cuma kolam yang didepan bangunan radionya saja, yang berbentuk hati. aku pertama kali lihat tahun 1988, saya sedih banget melihatnya, padahal dulunya ada bangunan yang megah dan super canggih pada masanya.
    Buat Mas Endro, kapan mau diadakan Festival Gunung Puntang, ikutan dong.

  9. 10 Tatang Gumulya
    Sabtu, 27-Februari-2010 pukul 9:57 pm

    Saya terkesan sama artikelnya…. mestinya tanggal itu dijadikan peringatan. Sampaikan ke pemerintah agar dikenang oleh masyarakat Indonesia……. salut buat artikelnya…

  10. 11 Rieski Ferdian
    Jumat, 30-Juli-2010 pukul 2:56 pm

    Mungkin buat nostalgia soal telekomunikasi, bisa ngajak2 Telkom secara Telkom bisa dibilang lahir di Bandung makanya sampe skarang kantor pusatnya di Japati sono. Sayang aja kalo sejarah terhapus bahwa dunia telekomunikasi modern Indonesia dimulai di Bandung walaupun Belanda memulainya dari Batavia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Kategori

Pengunjung

Blog Stats

  • 396,745 hits

Yang Lagi Baca Cingciripit

website stats

Yahoo! ID : king_mercury95

Kalendar

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Arsip


%d blogger menyukai ini: