28
Nov
07

3G Made In Jawa Barat

[https://i2.wp.com/www.anjjabar.go.id/30%20tahun/11lomba_fest/jaipong.jpgDikutip dari arsip Khazanah, suplemen HU Pikiran Rakyat khusus budaya edisi 27 Juni 2004]

Jaipongan dapat dikatakan menjadi seni tari yang paling menarik dan paling disenangi tidak hanya bagi masyarakat di Jawa Barat, tetapi juga bagi masyarakat nasional dan internasional, Jaipongan menjadi trend tersendiri dalam seni tari yang berakar dari seni tradisi di Jawa Barat.

Di tengah kejayaan Jaipongan, diwarnai pula oleh cemoohan yang menganggap Jaipongan tersebut cenderung mengeksploitasi erotisme, sehingga banyak yang beranggapan Jaipongan tersebut tidak mengindahkan tata krama dan etika, yang saat itu muncul istilah “3 G” yang maksudnya “Goyang Gitek Géol”, istilah ini mengasosiasikan pada gerakan seksual, sehingga berbagai kritik terhadap Jaipongan semakin menjadi-jadi. Terlebih ada anggapan bahwa Jaipongan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan di dunia maksiat (prostitusi), di mana tempat-tempat hiburan yang menyelenggarakan prostitusi ini selalu dengan hiburan Jaipongan, sehingga Jaipongan dianggap sebagai kesenian maksiat.

Namun, di tengah gunjang-ganjing seperti itu, Jaipongan tetap hidup di mana-mana, arus deras kepopulerannya tidak ada yang mampu menghadang, bahkan untuk mempromosikan pariwisata Indonesia, Jaipongan merupakan salah satu tarian yang tidak pernah tertinggal, selalu ada untuk dipertunjukkan di berbagai negara hingga kini. Jaipongan seolah telah menjadi milik bangsa Indonesia, tidak lagi hanya milik kebanggaan urang Sunda atau Jawa Barat. Ketika seorang master koreografer semacam Bagong Kusudiardjo (almarhum) yang juga melahirkan karya tarinya Japong yang mengambil berbagai unsur tari nasional, memiliki semangat yang sama dengan Jaipongan, tetap tidak mampu menandingi kepopuleran Jaipongan di Indonesia.

Sang penciptanya sendiri Gugum Gumbira Tira Sonjaya tidak sepopuler karyanya Jaipongan. Padahal dari kreativitasnya dengan lagu-lagu Jaipongannya seperti Daun Pulus Keser Bojong, Serat Salira, Bulan Sapasi, Sinden Beken, dll, maupun karya tarinya, tetap tidak mendongkrak kepopuleran Gugum Gumbira, dan ia pun tetap tidak pernah bergeming duduk sebagai birokrat, artinya tidak pernah menunjukkan dirinya sebagai seniman, seperti layaknya para koreografer lainnya. Karyanya yang bernama Jaipongan merebak ke mana-mana hingga ke mancanegara tanpa banyak orang tahu itu adalah buah karya Gugum Gumbira.

Jika ditelusuri dari perjalanannya sebagai seniman hingga ia melahirkan sebuah karya yang bernama Jaipongan, sebenarnya bukanlah pekerjaan mudah. Seperti digambarkan dalam pergelaran Bias Cakrawala Jaipongan karya sutradara Bambang Aryana yang begitu bagus. Ternyata, Jaipongan tidak lahir begitu saja, jika intinya berdasarkan hakikat Ketuk Tilu (atau dengan bentuk lain Doger, Banjet Subang, atau Longser Sumedang) dan Pencak Silat, serta terpukau dengan eksotika para Ronggeng di pesisir utara Jawa Barat, yaitu Karawang dengan Bajidoran-nya. Gugum pun melakukan studi komprehensif terhadap tari-tari lainnya, baik itu Topeng Banjet, Topeng Cisalak, Topeng Cirebon, Ibing Keurseus, dan Tayuban.

**

KETIKA lahir, Jaipongan tetap berangkat dari akar tradisi seni tari Sunda (Jawa Barat) dengan semangat menerobos konservatif nilai-nilai tradisi, memecah kebekuan ibing patokan atau pakem, dan Jaipongan menyeruak lebih cingeus atau lincah dan dinamis, serta entakan-entakan tepak kendang yang memunculkan fenomena erotisme dan daya sensualitas yang tinggi, yaitu gerak yang tidak bisa dihindarkan dari Jaipongan, goyang, gitek, geol, menjadi daya tariknya sekaligus menghibur, ini merupakan prinsip modernitas yang ditunjukkan Jaipongan.

Maka, ketika Jaipongan kembali diprosesikan dalam acara Opening Tone Jaipongan Award 2004 (14/6) di Hotel Horison dengan menghadirkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI saat itu, I Gede Ardika dan Gubernur Jawa Barat, Danny Setiawan, kembali menafsirkan apa itu Jaipongan, sehingga muncul dari pernyataan Gubernur Jawa Barat, perlunya Jaipongan untuk direduksi agar tidak memperlihatkan erotisme yang dapat berarti tidak sejalan dengan tata nilai kemasyarakatan, ini semakin mengacaukan wahana nilai kesenian itu sendiri sebagai buah kreativitas dari perjalanan seniman yang melahirkannya.

Sensualitas dan erotisme yang ada dalam tarian Jaipongan merupakan napas dan denyut yang tidak bisa dihindarkan, karakteristik daya tarik atau daya sihir Jaipongan justru pada sensualitas dan erotisme itu. Jika direduksi, katakanlah menghilangkan hakikat goyang, gitek, géol apalah jadinya. Seolah menghilangkan daya tariknya, menghilangkan daya sihirnya dan menghilangkan daya pesonanya.

Seperti dikatakan budayawan Nano S., ketika Jaipongan dihebohkan dengan goyangannya, apakah karena kesan vulgar dan sensual? “Mungkin, karena itu bagian mata yang mencernanya. Tetapi kalau kita telaah musik Jaipongan melalui pendengaran, maka saya merasa untuk ukuran rasa orang Sunda pada umumnya, sangat jauh dengan kesan yang sensual,” ujarnya.

Demikian pula pengakuan Didik Nini Thowok. “Sebagai seniman yang berasal di luar budaya Sunda, saya merasa sangat tertarik setelah mempelajari dan mengenal gerakan goyang gitek geol dengan irama kendang dan musiknya yang dinamis, banyak memberikan inspirasi bagi saya dalam karya tari komedi,” ujarnya, seraya ia menekankan bahwa Jaipong memiliki ciri dan bentuk yang spesifik yaitu dinamis, erotis, energik dan gembira.

Bahkan Iyus Rusliana menilai, apa yang telah diciptakan Gugum Gumbira ini dapat dikatakan sebagai karya tari Sunda yang membentuk menjadi suatu genre tersendiri, Jaipongan merupakan “penyelamat” dari kevakuman karya tari Sunda setelah keemasan tari Sunda karya R. Tjetje Soemantri. Oleh karena itu pantaslah jika muncul tulisan yang langsung menyebutkan bahwa tari Jaipongan ini sebagai ledakan yang ketiga setelah R. Tjetje Soemantri dalam perkembangan pola garapan tari Sunda.

“Kiranya patut dipercaya bahwa niat dan tujuan utama Gugum Gumbira menciptakan karya-karyanya adalah untuk mewujudkan tarian Sunda atau karya tari Sunda (yang estetis). Oleh karena itu hasil karyanya tampak sekali bahwa kekayaan gerak yang terbentuk dan tersusun menjadi koreografi. Ditempatkan sebagai medium ungkap pokoknya. Begitu pula pelaku yang dianggap paling menentukan terwujud karyanya di atas pentas. Adalah penari,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama Arthur mengatakan, peristiwa negasi dari birokrat pada saat itu sempat muncul, karena Jaipongan dipandang sebagai tarian erotik yang kurang mendidik. Namun seperti biasa, hukum massa berlaku. Apa pun yang diisukan, apa pun yang digunjingkan, apa pun yang dilarang, akhir muaranya adalah kepenasaran. “Maka tanpa diduga, peristiwa ini mendongkrak Jaipongan menjadi sebuah fenomena massa, dan akhirnya secara perlahan negasi birokrat ini pupus, berganti dengan tumbuh dan berkembangnya Jaipongan,” paparnya.

Persoalan ini kembali muncul ketika Gubernur Jawa Barat mengungkapkan dalam sambutannya saat “Opening Tone Jaipongan Award 2004” di Hotel Horison, agar mereduksi kembali soal erotisme. Bukankah ini pernyataan ini setback? Yah, Jaipongan adalah Jaipongan seperti apa adanya yang telah dilahirkan oleh seorang kreator seperti Gugum Gumbira. Dia telah memoleskan warna dalam kanvas yang tidak mungkin dihapus kembali, tetapi nilai erotisme atau sensualitas yang dimunculkannya jangan seraya ditafsirkan dan dihubungkan dengan moralitas, etika atau tata krama, tetapi itulah daya estetis dari kreativitas seorang seniman. Sesungguhnya, fenomena Jaipongan adalah erotisme estetis!

Apa pun yang dilakukan Gugum Gumbira, memang sudah selayaknya diberikan penghargaan yang layak. Tetapi tentu saja tidak hanya Gugum, orang-orang yang ikut membidani lahirnya Jaipongan tidak bisa dilupakan, seperti yang telah diberikan dalam “Jaipongan Award 2004” ini, yaitu Mang Samin, Mang Tosin, Euis Komariah, Nandang Barmaya, Suwanda, Mimin Suwanda, Daii, Ijah Khadijah, Iar Wiarsih, dan seorang primadonanya Tati Saleh, seperti dikatakannya tentang event ini, “Jaipongan muga makalangan. Jaipongan tong ringrang teu dipiheman, jeung Jaipongan masing tepi kana udagan.”

Sayangnya di tengah kemarakan dan kegembiraan event Jaipongan ini, di manakah Gugum Gumbira, mengapa ia menghilang begitu saja? (Diro Aritonang/”PR”)***


6 Responses to “3G Made In Jawa Barat”


  1. 2 anak Indonesia berkata..
    Selasa, 29-Januari-2008 pukul 5:42 pm

    ya…. asalkan masih dalam batas wajar ja itu gak masalah, karena itu merupakan ciri khas tarian Jawa Barat. Harus terus dikembangkan dan dilestarikan jangan sampai terhapus oleh datangnya budaya asing.

  2. Minggu, 22-Juni-2008 pukul 12:58 pm

    oalah, tak kira 3G apaan, gud job, nais job, pokoke mantep (bukan makan tempat lho, salut karena masih mau mengangkat post tentang kebudayaan (niatnya sih blogku juga sama) teruskan perjuanganmu Nak!

  3. 4 dhenani
    Selasa, 10-Februari-2009 pukul 2:58 pm

    Kang Didit, hatur nuhun pisan atas tulisannya. Saya sebagai orang karawang yang terkenal dengan “Goyang Karawang” nya merasa agak tersinggung dengan pemberitaan 3G ini. Karena ini adalah kesenian asli dari jawa barat. Masalah goyang dan gitek yang seronok, mungkin memang ada beberapa oknum yang melakukannya dan mereka ini perlu diberikan arahan yang benar bagaimana seharusnya berkesenian bukan mencoreng kesenian itu sendiri.

  4. Selasa, 10-Februari-2009 pukul 3:44 pm

    dhenani,
    Seperti yang saya tulis diawal postingan ini, tulisan ini 100% dikutip dari arsip Khazanah, suplemen HU Pikiran Rakyat khusus budaya edisi 27 Juni 2004, jadi bukan saya yang menulisnya🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Kategori

Pengunjung

Blog Stats

  • 396,678 hits

Yang Lagi Baca Cingciripit

website stats

Yahoo! ID : king_mercury95

Kalendar

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Arsip


%d blogger menyukai ini: