15
Nov
07

Bukan Kereta Api yang Menabrak Mikrolet dan Truk

Dikutip dari HU Pikiran Rakyat, Kamis 15 Nov 2007 :

5 Tewas, KA Seruduk 2 Mobil
Beberapa Ruas Rel KA Tertutup Pohon Tumbang

JAKARTA, (PR).-
Lima orang tewas dan sejumlah penumpang lainnya luka-luka dalam insiden tabrakan Kereta Api (KA) Parahyangan jurusan Gambir-Bandung dengan Mikrolet M 26 Jurusan Pulogadung-Kampung Melayu nopol B 1671 VP dan mobil boks hijau nopol B 9864 JT, di pintu perlintasan Cipinang Lontar, Jakarta Timur, Rabu (14/11) sekitar pukul 16.45 WIB.

Berdasarkan laproran di lapangan, ke-5 korban meninggal semuanya penumpang mikrolet, termasuk sopir Riyanto Lubis (29) warga Jln. Tipar Cakung Jaktim. Empat lainnya, Aswi Nawawi (65) warga Sodong Utara I No. 6 RT 06 RW 07 Cipinang Pulogadung Jaktim, Daroji (44) warga Jln. Pisangan Baru, Jatinegara Jaktim, Jusri (66) warga Kampung Jati RT 02 RW 06 Jatinegara Jaktim, dan seorang wanita yang belum diketahui identitasnya.

Para korban selanjutnya dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Sedangkan korban yang luka-luka dibawa ke RS Persahabatan Jakarta Timur. Mengenai penyebab kecelakaan, sejauh ini diduga akibat kedua mobil nahas itu menyerobot pintu perlintasan kereta api yang tertutup secara otomatis.

“Posisi mereka pada saat itu memang sejajar. Ini tampak dari posisi pintu palangnya hingga putus,” ujar Sutarto H.S., pengawas operasi lintas wilayah timur Daops I di Stasiun Pasar Senen Jakarta.

Saksi mata

Atas kejadian tersebut, polisi segera bergerak cepat dengan memeriksa penanggung jawab perlintasan di Cipinang Lontar, Jakarta Timur. “Kita sudah memeriksa penjaga pintu perlintasan dan para saksi mata yang ada,” kata Kasatlantas Jakarta Timur Kompol Indra Jafar. Indra pun membenarkan adanya lima orang yang tewas dalam tragedi tersebut.

Sementara itu, Kepala Humas PT KA (Persero) Daops I Ahmad Sujadi menuturkan, akibat kecelakaan di pintu perlintasan tersebut, kaca depan lokomotif KA Parahyangan retak-retak. “Akan tetapi, kerusakan lain tidak ada sehingga kereta api tetap bisa jalan. Setelah KA Parahyangan itu jalan, kereta lainnya pun bisa melewatinya,” katanya.

Sujadi menjelaskan, KA Parahyangan itu sendiri seharusnya berangkat dari Stasiun Gambir pukul 14.25 WIB. Namun, karena terdapat pohon tumbang yang menimpa rel KA, kereta tersebut baru bisa berangkat pada pukul 16.10 WIB. Setelah KA Parahyangan itu lewat, kereta api lainnya tetap jalan seperti biasa. Meski begitu, beberapa saat di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) sempat terjadi kemacetan arus lalu lintas. (A-94/dtc)***

Kalau aku koq rasanya kurang setuju dengan judul seperti di atas tadi, kesannya kereta api yang menjadi pihak yang disalahkan. Memang sih dalam berita selanjutnya dikabarkan bahwa dugaan sementara adalah mikrolet dan truk yang mencoba menerobos pintu lintasan yang menutup secara otomatis.

Entah apa yang ada dibenak para pengemudi itu sesaat sebelum kejadian sehingga nekat untuk menerobos pintu perlintasan. Mungkin sudah terbiasa dengan cara seperti itu sebelumnya. Apakah mereka pada saat membuat SIM tidak dijelaskan mengenai aturan lalu lintas, jangan-jangan SIM-nya pun nembak atau malah tidak punya SIM.

Aturan mengenai perlintasan jalan untuk lalu lintas umum dan rel kereta api tertuang dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1992 tentang Perkeretaapian

Pasal 16
Dalam hal terjadi perpotongan jalur kereta api dengan jalan yang digunakan untuk lalu lintas umum atau lalu lintas khusus, pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api.

Tuh kan, sudah jelas bahwa kereta api mendapat prioritas yang lebih tinggi dibandingkan kendaraan lain dalam daerah perlintasan. Apalagi jika perlintasan tersebut ada palang pintunya baik yang dikendalikan oleh penjaga perlintasan atau secara remote dari stasiun kereta api terdekat.

Masalahnya, kenapa sekarang banyak perlintasan tanpa pintu dan penjaganya ? Bagaimana agar kelancaran berlalu-lintas terjaga ? Kembali lagi lihat UU di atas, bagi pengendara kendaraan non kereta api, diharapkan agar berhati-hati jika melewati perlintasan kereta api, apalagi yang tidak berpenjaga. Selalu berjalan lambat, melihat situasi, mendengarkan suara apakah kira-kira akan ada kereta yang akan lewat.

Sewaktu sinyal mekanis masih dipakai oleh PT KA (persero), orang cukup mudah mengetahui akan adanya kereta yang melintas. Menara sinyal yang cukup tinggi bisa dilihat dari jarak cukup jauh, jika lengan sinyal terangkat, dipastikan tidak lama lagi akan ada kereta yang melintas. Tapi sekarang, di mayoritas lintasan pulau Jawa, sinyal mekanis sudah banyak digantikan oleh sinyal elektrik yang relatif sulit dilihat dari jarak jauh.

Mengenai perlintasan yang tidak dijaga, ini pasti UUD, iya ujung-ujungnya duit. PT KA (persero) tidak mampu menyelenggarakan perlintasan yang selalu ada pintu dan penjaganya. Masalah utamanya adalah semakin banyak jalan yang melintasi rel kereta api. Jalan ini bisa berupa jalan masuk ke sebuah pemukiman baru, jalan lingkar luar kota dan sebagainya. Tentunya, pihak-pihak pembangun jalan tersebut sangat diharapkan untuk membantu PT KA (persero) dalam menyelenggarakan perlintasan yang aman.

Kalau pernah mengunjungi Bandara Adi Sucipto Yogyakarta, pasti akan melintasi rel kereta api antara Yogyakarta – Solo. Di depan gerbang bandara tersebut ada sebuah perlintasan kereta api yang lengkap dengan pintu penghalangnya. Nah perlengkapan ini ternyata tidak dibiayai oleh PT KA, melainkan oleh pihak bandara. Salut, andai semua pihak yang menggunakan perlintasan kereta api seperti ini, alangkah indahnya🙂

Satu lagi nih, rangkaian kereta api itu tidak bisa diberhentikan secara mendadak. Sebuah rangkaian kereta yang melaju dengan kecepatan ± 90 kmj, baru akan berhenti total setelah melintas sepanjang ±700 meter dari titik pengereman dimulai. Jika dipaksa dengan rem mendadak dikhawatirkan rangkaian akan terguling. Inilah salah satu faktor mengapa sering terjadi tabrakan jika ada kendaraan yang menghalangi di rel kereta.

Semoga dimasa mendatang peluang terjadinya tabrakan kereta api dan kendaraan lain semakin mengecil dan akhirnya tidak sama sekali. Usaha ini tidak akan ada artinya jika para pengguna lalu lintas tidak mematuhi peraturan yang ada. Ada baiknya kita sebagai pengguna lalu lintas non rel kereta api menganut aturan seperti yang terpampang di setiap perlintasan di sebuah negara di Eropa : Stop, Watch and Listen for the Train.


0 Responses to “Bukan Kereta Api yang Menabrak Mikrolet dan Truk”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Kategori

Pengunjung

Blog Stats

  • 396,745 hits

Yang Lagi Baca Cingciripit

website stats

Yahoo! ID : king_mercury95

Kalendar

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Arsip


%d blogger menyukai ini: