14
Nov
07

Tabrak Saja Pejalan Kaki Itu !

https://i1.wp.com/www.pedestrianunderpants.com/pedestrian.jpgSeorang rekan pernah mengatakan dalam sebuah diskusi tidak resmi di sebuah warteg di daerah Krukut beberapa bulan yang lalu. “Pejalan kaki itu menempati prioritas utama di jalanan, setelah itu baru kendaraan kecil, kendaraan menengah dan terakhir adalah kendaraan besar” kata beliau sambil mengunyah daging rendang yang sepertinya alot😛 Wow, kalau begitu urutannya betapa bahagianya para pejalan kaki, mereka adalah raja jalanan. Sepertinya rekan ini lupa dalam memberikan statement, bahwa pejalan kaki pun harus mematuhi aturan lalu lintas juga, jangan seenak udel-nya menggunakan jalanan.

Berjalan kaki bukan pada tempatnya (baca : trotoar) , menyeberang jalan bukan pada zebra cross atau JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) adalah contoh bagaimana pejalan kaki yang sudah kebablasan menggunakan hak raja-nya seperti deskripsi rekanku di atas tadi.

Bagaimana jika pada saat melanggar aturan tersebut, dia tertabrak motor ? siapa yang harus disalahkan, si penyeberang jalan atau pengendara motor ? Masyarakat Indonesia kebanyakan selalu melihat dari sudut pandang bahwa yang kecil adalah pihak yang lemah. Sehingga si pengendara motor biasanya adalah pihak yang disalahkan, hanya karena dia menjadi pihak yang lebih besar daripada pejalan kaki. Padahal kalau dari segi hukum jelas-jelas si pejalan kakilah yang salah. Konyolnya, pak polisi pun kadang-kadang mengikuti cara pandang ini. Okelah, kalau alasannya si pengendara motor melajukan kendaraannya melebihi batas kecepatan maksimum, berarti dua pihak tersebut yang bersalah, karena tetap saja yang tertabrak sudah melanggar aturan.

https://i2.wp.com/www.ksdot.org/burTrafficSaf/images/pedsig.gifKonon di kota Sao Paolo, Brazil saat ini para pengendara tidak segan-segan lagi menabrakkan kendaraannya kepada pejalan kaki yang jelas-jelas melanggar aturan. Hebatnya di Sao Paolo tidak ada jembatan penyeberangan, karena dianggap mengurangi keindahan kota. Lalu, dimana para pejalan kaki menyeberang ? Tentunya di zebra cross atau disana lebih dikenal sebagai cross line. Para pejalan kaki wajib mengikuti aturan yang ada. Boleh melintas dikala lampu untuk penyeberang jalan sedang berwarna hijau. Jika nekat melanggar siap-siap saja ditabrak oleh para pengendara kendaraan.

https://i1.wp.com/www.cera-prom.com/trotoar.jpgKalau tradisi ini diterapkan di Indonesia bagaimana ya ? Hmm~, kayaknya masih jauh dari kenyataan deh. Trotoar yang menjadi hak eksklusif pejalan kaki saja hanya sedikit yang representatif. Yang lainnya, pejalan kaki harus bersaing dengan kaki lima, motor yang masuk trotoar karena jalanan sudah macet. Belum lagi trotoar yang dibongkar karena dibawahnya akan dipasang kabel atau saluran air.

Juga demikian dengan tradisi menabrakkan kendaraan ke pejalan kaki yang bandel. Di Indonesia sih bisa-bisa terjadi adu otot deh, si pejalan kaki belum tentu bisa menerima perlakuan pengendara😀 (makanya cara menabrakkannya yang benar, supaya pejalan kakinya langsung pingsan, cuma paling nanti dikejar sama pak polisi)

[lagi mimpi tengah siang bolong]


3 Responses to “Tabrak Saja Pejalan Kaki Itu !”


  1. Kamis, 22-November-2007 pukul 5:10 pm

    Memang dlm memanfaatkan fasilitas publik (baca: jalan) semua pengguna hrs saling menghormati, tdk saling melanggar hak org lain. Tp, selama pengalaman saya yg selalu berkendaraan umum, menyebrang menjadi hal yg paling ‘menakutkan’. Meskipun tdk pernah mengalami kecelakaan di jalan, saya selalu ngeri. Saya selalu menyeberang di JPO atau cross line (dg catatan trotoar msh bs dipake, klo sdh penuh dg para pedagang ato bolong2 oleh proyek segala galian, ya tdk ada pilihan lain utk tdk memakan hak pengendara) tp selalu saja hak saya dilanggar oleh pengendara kendaraan. Mereka tdk mau mengalah saat jalannya distop sebentar oleh pejalan kaki. Lebih parah mereka juga marah2 dan coba melanggar aba2 polisi saat menyeberangkan pejalan kaki. Polisi saja sdh tdk dihiraukan, apalagi saya?? Yah, itulah Indonesia. Semua ingin menang sendiri dan tdk mau peduli dg hak org lain. Klo sdh begitu siapa yg salah..?

  2. Jumat, 5-September-2008 pukul 10:11 am

    maaf, pejalan kaki engga bisa disalahin begitu aja, kan. buktinya banyak juga pengendara motor yang pake trotoar seenaknya. padahal itu jalur pejalan kaki. kalo trotoar udah dipake buat jalur alternatif pengendara motor + pedagang kaki lima, jelas wajar saja kalo pejalan kaki sampe turun ke badan jalan.

    jadi sebenernya ini balik ke Pemda juga gimana ngatur pedagang kaki lima biar engga jualan di trotoar. juga pengendara motor dilarang naik trotoar. setelah itu baru keluarin aturan buat pejalan kaki. soalnya kalo peraturannya dimulai dari pejalan kaki. bakalan ribet dah urusannya…

    thx

    baca juga artikel saya tentang trotoar Jakarta di:
    http://sipejalankaki.blogspot.com

  3. Jumat, 5-September-2008 pukul 10:45 am

    Yup betul dan setuju dengan mas Benk2,

    Artikelku di atas kan isinya cuma berandai-andai aturan yang diterapkan di Sao Paolo Brazil diterapkan juga di kota-kota di Indonesia


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Kategori

Pengunjung

Blog Stats

  • 396,678 hits

Yang Lagi Baca Cingciripit

website stats

Yahoo! ID : king_mercury95

Kalendar

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Arsip


%d blogger menyukai ini: