03
Okt
07

Sholat Tarawih di Bale Nyungcung

https://i2.wp.com/www.bandungheritage.org/images/stories/alun/masjidbdg_1875.jpgMesjid Raya Bandung atau Mesjid Agung Bandung dulu dikenal sebagai Bale Nyungcung, penyebutan ini dikarenakan atap mesjid yang nyungcung (lancip), tidak seperti tampilan mesjid yang sekarang.

Dulu pada dinding dan pilar ruang depan serta Serambi Mesjid Agung banyak kita dapati paku-paku yang menancap. Sebelum mengerjakan shalat jama’ah pria yang datang pada umumnya berganti busana dulu. Setelah memakai sarung, pantalon dan celana dalam ditanggalkan, lalu digantungkan pada paku-paku yang tersedia di dinding dan pilar. Dengan lain kata, di balik sarung semua serba polos, openbaar.

Sekali peristiwa tatkala Haji Tajudin, penduduk Ancol, lagi rukuk shalat tahiyyatul masjid, buntut sarungnya terinjak anak-anak yang lalu-lalang, langsung – sarung melorot dan ‘wow’… aurat, aurat. Dengan gerak refleks dan sigap, Wak Haji menyambar sarungnya, lalu digulung dan cepat menguber setan alit, si pembuat gara-gara. Dan tentu saja, mesjid jadi guyur, ramai, hingar-bingar diselingi gelak tawa pengunjung.

Mohon dimaklum, kala itu belum ada Satpam, jadi keamanan dan ketentraman mesjid ditangani oleh Marebot, si penabuh bedug. Maka beliaulah yang paling berwenang mengambil alih, menangani ‘setan setan alit’ di Mesjid Agung. Namun karena sang Marebot kelewat galak pada anak-anak, akibatnya fatal juga. Begitu usai shalat Tarawih, bedug yang biasanya seru dipalu orang, kali ini sepi
tak berbunyi. Ternyata mang Marebot, lari ke sana kemari, mencari panakol (sunda = pemukul) bedug yang hilang disembunyikan anak-anak.

Ketika Marebot sedang sibuk mencari panakol bedugnya, keributan dan kekisruhan terjadi pula di serambi depan dan pintu masuk mesjid. Sejumlah jama’ah yang berusia lanjut kebingungan karena pantalon dan celana kolornya berubah menjadi butut dan ledrek, saling tertukar dengan milik orang lain. Siapa pula biang kerok kelakuan itu, kalau bukan anak-anak bengal ‘penguasa’ Mesjid Agung
Bandung.

Peristiwa serupa terjadi juga di tangga pintu masuk mesjid. Yang namanya ‘gamparan’ (semacam kelom/bakiak), terumpah, sandal, dan sepatu, semua tergolek berantakan, berubah pasangan. Hingga jauh malam, masih ada pengunjung mesjid yang meraba-raba kian kemari mencari pasangan alas kakinya, sambil ‘kutuk gendeng’ mengumbar caci maki “Dasar anak setan, bedul, ontohod, bangkawarah !” dan sebagainya, dan sebagainya.

https://i1.wp.com/www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/012007/04/11-Masjid%20Raya%20Jabar.gif
Mesjid Raya Bandung sekarang

Sumber : Haryoto Kunto,”Ramadhan di Priangan (Tempo Doeloe)”, PT Granesia, 1996
Sejarah perombakan Bale Nyungcung bisa dibaca di sini dan di situ


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Kategori

Pengunjung

Blog Stats

  • 396,678 hits

Yang Lagi Baca Cingciripit

website stats

Yahoo! ID : king_mercury95

Kalendar

Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Arsip


%d blogger menyukai ini: