19
Sep
07

Bandoeng, 1810

Zorg, dat als ik terug kom hier een stad in gebouwd” (Coba usahakan,bila aku datang kembali ketempat ini, sebuah kota telah rampung dibangun).
-H.W. Daendels, 1810

https://i1.wp.com/home.planet.nl/~awaan/Bataafse_Generaals/Daendels/daendelsveer.jpgMungkin Maarschalk (“Mas Galak”) Hermann Willem Daendels tidak pernah menyangka, tatkala ia menancapkan tongkatnya di suatu ruas Grootepostweg (Jalan Raya Pos) -tempat yang sekarang menjadi Kilometer Nol-nya kota Bandung (sekarang Jl. Asia Afrika no. 79)-, sambil memerintah perwira zenie militer untuk membangun kota di tempat itu, ternyata kemudian kota tersebut telah tumbuh berkembang, membengkak seperti sekarang ini. Sebuah kota yang terbilang padat penduduknya di dunia.

Padahal, hingga pertengahan abad-19 yang lalu, Bandung masih sunyi sepi, dikenal sebagai een kleine berg dessa (desa pegunungan nan mungil) yang jarang dikunjungi orang luar. Maklumlah berdasarkan surat Perintah Gubernur Jenderal G.A. Baron van der Capellen, tanggal 9 Januari 1921, Staatsblad No. 6/1821, yang menetapkan bahwa wilayah Keresidenan Priangan tertutup bagi orang Eropa, Cina dan orang asing lainnya, kecuali bagi mereka yang telah mendapat izin dari Residen Priangan yang berkedudukan di Cianjur. Mereka yang tergolong “orang asing” dalam penetapan tersebut juga meliputi etnis Melayu, non Sunda atau non Jawa. Berdasarkan peraturan tersebut yang dikenal sebagai Passenstelsel, maka bagi orang-orang Nusantara dan bangsa timur asing yang dipersamakan haknya dengan Bumiputera (menurut Hukum Sipil 1848 yang berlaku hingga 1920), kepada mereka diwajibkan membekali diri dengan “surat pas jalan” bila bepergian dari satu ke distrik lainnya di kawasan Priangan. Akibat dari kewajiban memiliki surat pas tersebut, maka pada awal abad-19 yang lalu, para pelancong dari luar daerah menjadi enggan berkunjung ke dusun Bandung yang terletak di pedalaman Tatar Priangan.

”Itu pratoeran soenggoeh ada ditaoen 1821 dibri nama PASSENSTELSEL njang melarang semoea sadjah orang troetama orang Tiongkok dan Babah dinegri djadjaan njang aken pigi ke Java Koelon, moesti mengantongi soerat pass.”

Apalagi pelanggaran Passenstelsel yang terkenal itu, diancam dengan denda f 25.00 hingga f 50.00 atau masuk penjara 8 hari, bagi mereka yang tidak membawa “pas jalan”. Dengan prosedur, lebih dulu ditangkap, digiring, dibelenggu dan ditahan sebelum perkaranya diperiksa oleh polisi rol. Berbekal surat jalan saja tidak cukup. Bila tidak memperlihatkan “pas jalan” untuk dicap pada setiap distrik yang dilalui, ditempat tujuan dan sekembalinya, diancam pula dengan denda f 10.00 atau penjara 3 hari

Sebagai lahan bekas “danau purba” (Situ Hyang) yang mulai mengering, kawasan Tatar Bandung pada pertengahan abad-19 yang lalu masih dipenuhi oleh rawa-rawa, danau kecil (sunda : Situ), kubangan dan genangan air yang menjadi sumber penyakit. Akibatnya, Bandung kala itu, memiliki angka kematian penduduk, terutama kematian balita yang tinggi. Sehingga kota ini sempat dijuluki sebagai kinderkerkhof alias kuburan balita.

Itu pula sebabnya, sampai awal abad-20, di sudut-sudut pekarangan rumah penduduk, dan lahan terbuka di perkampungan kota, orang sering menemukan gundukan kuburan balita, berserakan di mana-mana. Baru kemudian setelah Kota Bandung mendapat statusnya sebagai Gemeente, untuk pertama kalinya orang kota mengenal apa yang disebut Tempat Pemakaman Umum (TPU).

Tentu saja, kondisi kesehatan “kota mungil” Bandung yang demikian buruk itu, membuat Tuan Residen dan para pejabat pemerintah kolonial di Cianjur enggan melaksanakan perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda, untuk memindahkan Ibukota Priangan dari Cianjur ke Bandung di tahun 1856.

Namun akhirnya, pada tahun 1864 proses pemindahan Ibukota Priangan itu terlaksana juga. Ada beberapa alasan yang mendorong pemindahan Ibukota Keresidenan Priangan dari Cianjur ke Bandung, antara lain berdasarkan pertimbangan :

  • Kota Bandung yang dilingkungi gunung dan terletak di pedalaman Priangan, sangat ideal untuk bastion, pusat pertahanan menurut konsep Daendels.
  • Selama Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang berlangsung di Jawa Barat (1830-1870) ternyata Kota Bandung memiliki lokasi strategis sebagai pusat penimbunan dan pengangkutan hasil bumi daerah Priangan.
  • Akhirnya, rencana pemindahan Ibukota Priangan tak dapat ditunda- tunda lagi, tatkala gunung Gede meletus dan menghancurkan bangunan-bangunan di kota Cianjur tahun 1864.

Atas pertimbangan di atas serta dorongan dan usulan Dr. Ir. R. van Hoevell (seorang tokoh pemuka masyarakat kolonial), pemerintah pusat kolonial di Batavia kemudian memindahkan Ibukota Priangan ke Bandung. Sebuah kota yang kelak kemudian hari mendapat julukan sebagai “Parijs van Java” atau “Europa in de Tropen” (Eropa di daerah Tropis), kota koloni hunian bangsa kulit putih di Nusantara.

Sumber :
Wadjah Bandoeng Tempo Doeloe, 1984;
Semerbak Bunga di Bandung Raya, 1986;
Balai Agung di Kota Bandung, 1996; semuanya tulisan Ir Haryoto Kunto, terbitan PT Granesia


4 Responses to “Bandoeng, 1810”


  1. 1 Agus Syapari
    Kamis, 27-September-2007 pukul 2:58 pm

    Historic sekali nih…a Very nice blog to see!!!!!
    Tong Hilap Hidup Persib ah!!!!

  2. 2 Sembudi
    Kamis, 27-Desember-2007 pukul 9:35 pm

    Persib meunang siah 4-0 lawan Persiraja!

  3. Rabu, 21-Mei-2008 pukul 9:21 am

    Hebat euy beritanyah ……………..
    Trusin berita-berita lennyah ………
    terutama tentang situ-situ yang ada di
    bandung …………………………

    Salam n mohon ijin nyopas poto-potonta.

    Hatur Nuhun.

  4. 4 abu raka
    Kamis, 29-Mei-2008 pukul 9:54 pm

    asa reueus tur waas ka bandung jaman baheula… nuhun pisan ka sadayana no tos ngamumule ka ki sunda khususna Bandung… hayu urang rojong jeung ngajembarkeun budaya urang… ngiringan atuh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Kategori

Pengunjung

Blog Stats

  • 396,678 hits

Yang Lagi Baca Cingciripit

website stats

Yahoo! ID : king_mercury95

Kalendar

September 2007
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Arsip


%d blogger menyukai ini: