17
Sep
07

Ngaboeboerit di Bandoeng Tempo Doeloe

Ngabuburit yang merupakan bahasa Sunda itu, artinya melena-lena, melewatkan waktu di bulan Puasa, hingga senja tiba (sunda : burit = senja), yakni menjelang adzan Maghrib, waktunya berbuka puasa.Dulu, ketika Bandung belum memiliki instalansi penjernihan air (ledeng), sebagian warga kota masih suka mandi dan mencuci pakaian di sungai Cikapundung. Maklum, Cikapundung jaman baheula airnya masih sejuk, jernih bersih, sejak hulu di kaki gunung Tangkubanparahu, sampai muara di sungai Citarum.

 

https://i0.wp.com/www.geocities.com/bandungcity/Viaduct.jpg

Adapun tepian sungai Cikapundung tempat orang mandi dan mencuci pakaian terletak di Gadog, Tamansari, Bangbayang, Gang Plesiran, Nangkasuni, Babakan Ciamis, Braga, Pangarang, Lengkong, dan sebagainya. Bahkan ditepian sungai dekat Babakan Ciamis, dikenal Kampung Pangumbahan, yakni tempat orang dan wasserij (tukang cuci) seantero kota membersihkan pakaian. Tak jauh dari kampung Pangumbahan itu, sewaktu jembatan Jl. Perintis Kemerdekaan (sekitar viaduct) belum ada, maka di bawahnya terdapat sebuah lubuk yang dikenal sebagai Leuwi Pajati.

Konon, pada bulan puasa, ba’da Ashar, ramai orang mandi atau ngabuburit ke Leuwi Pajati. Selain mandi-mandi, lubuk di bawah viaduct itu, airnya jernih dan banyak ikannya. Mereka yang pandai menyelam, terkadang berhasil menangkap udang kecil, berbagai macam ikan seperti deleg, beunteur, bogo, dan tawes. Lumayan dibawa ke rumah untuk lawuh berbuka puasa. Kemudian segerombolan anak muda, ada juga yang berjalan menyusuri sungai (Sunda : ngabaraga) Cikapundung sambil ngurek mencari belut. Namun hasilnya tak begitu banyak, seperti menangkap belut di sawah.

Ngabuburit, sekedar melewatkan waktu puasa jaman baheula bisa dilakukan beramai-ramai dengan kawan sekampung di beberapa Park (Taman) seperti Jubileum Park (Taman Sari), Insulinde Park (sekarang Taman Lalu Lintas), dan Molukken Park (Taman Maluku). Anak-anak yang lagi libur puasa, ngabuburit ke Insulinde dan Molukken Park, diantaranya ada yang membawa jaring dan ayakan bambu. Karena, di kedua taman itu terdapat saluran air dan kolam yang banyak ikannya. Dengan alat yang sederhana itu, mereka berhasil menangkap dan mengumpulkan ikan-ikan kecil (impun).

Adapun mereka yang ngabuburit ke Jubileum Park yang terletak di utara Kebun Binatang, menjelang sore berjalan menyusuri kali Cikapayang, yang mengalir dari pintu air di utara Pasar Balubur sampai ke Pieters Park (Taman Merdeka, kini Taman Dewi Sartika). Mereka yang dewasa, menyusuri Cikapayang sambil ngurek. Sedangkan anak-anak kecil mengadakan balap kapal-kapalan, dengan memanfaatkan kaleng sardencis, kelom bekas dan, kulit buah Kiangsret (Spathodea/Sepatu Dua/Sepatu Dewa) yang nyaris berbentuk perahu.

Sebuah lilin menyala diletakkan dalam “kapal” yang laju hanyut dibawa arus Cikapayang yang deras. Makin sore semakin asyik menarik. Kelap- kelip nyala lilin menembus dan menerangi kegelapan tanggul selokan dan bawah jembatan, diiringi gelak riang anak-anak yang berlarian sepanjang tepian sungai. Menjelang Maghrib, perahu mini hanyut sampai Pieters Park. Lalu, anak-anak bubar. Sedangkan mereka yang mujur, barang dua atau tiga ekor belut, berhasil dibawa pulang.

Ngabuburit di alam terbuka kota Bandung tak kurang obyek tujuan. Selain Park, puluhan lahan hijau terbuka yang digolongkan Plantsoen (kebun terbuka umum) dam Plein (lapangan) banyak terdapat di kota ini seperti di Alun-alun, Tegallega, dan lainnya. Namun anak-anak dulu segan bermain di lapang Gemeente (Balai Kota) dan lapangan GB (Gedung Sate), karena kedua lapang itu dijaga Opas (Satpam) galak, dengan kumis yang mbaplang.

Sedangkan orang-orang dewasa yang ngabuburit dengan menonton main bola, adu ayam, dan balap merpati di lapang “ATPC” tepi kali Citepus, harus ingat waktu. Jangan sampai asyik terbuai dan terlena oleh permainan. Sebab… sedikit lewat Maghrib, beberapa neng geulis bakal muncul menjajakan cinta. Karena lapang “ATPC” dahulu, terkenal sebagai bursa cinta di kota ini. Walah !

dikutip habis-habisan dari buku “ramadhan di priangan tempo doeloe”, ir haryoto kunto, pt granesia, 1996

Baca juga :
Zakat Munding
Idoel Fitri di Bandoeng Tempo Doeloe


2 Responses to “Ngaboeboerit di Bandoeng Tempo Doeloe”


  1. 1 Ranny
    Selasa, 1-April-2008 pukul 2:26 pm

    Kebayang indahnya ya … Bandung kita tempo doeloe. Mungkinkah keindahan itu akan kita rasakan kembali ??!

  2. Sabtu, 27-September-2014 pukul 1:51 pm

    Good paintings! This is the form of information and facts that should possibly be discussed around the web.. bursa taruhan bola Feel bad for on Google with no extended positioning this particular put up higher! Occur over plus speak with my site. Thank you Equals)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Kategori

Pengunjung

Blog Stats

  • 396,678 hits

Yang Lagi Baca Cingciripit

website stats

Yahoo! ID : king_mercury95

Kalendar

September 2007
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Arsip


%d blogger menyukai ini: