06
Sep
07

Awal Ramadhan 1428 H

Marhaban Ya Ramadhan…

Yogyakarta-RoL— Berdasarkan perhitungan rukyah maupun hisab, awal bulan ramadhan tahun ini tetap jatuh pada tanggal 13 September, kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) KH Thoha Abdurrahman, Senin. Bahkan, kata dia, hasil perhitungan organisasi Islam besar seperti Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama (NU), juga menetapkan awal bulan puasa waktunya sama, yaitu tanggal 13 September.
Ia mengatakan, berdasarkan perhitungan rukyah atau melihat bulan dengan mata telanjang, maka pada Rabu (12/9) malam bulan sudah terlihat besar di atas ufuk, atau berada di posisi dua derajat.
“Dengan demikian, hari Kamis 13 September 2007 umat Islam akan bersama-sama memulai ibadah puasa Ramadhan,” katanya.

– Republika

Tahukah kalian kenapa dalam menentukan hari terutama awal Ramadhan, Idul Fitri, Wukuf, dan Idul Adha sering terjadi perbedaan di Indonesia ?

Sudah kita ketahui bersama, bahwa sebagian besar kegiatan ibadah umat Islam dilakukan dengan mengacu kepada kalender Hijriah. Kalender Hijriah ini menggunakan sistem kalender lunar, yaitu berdasarkan pergerakan bulan mengelilingi bumi.

Penentuan dimulainya sebuah hari pada Kalender Hijriyah berbeda dengan pada Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari dimulai pada pukul 00.00 waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut.

Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari).Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.

Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion). Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari matahari (aphelion). Dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 – 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi dan Matahari)

Penentuan awal bulan ditandai dengan munculnya penampakan bulan sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal.

Nah, proses penentuan awal bulan inilah yang menjadi pangkal dari seringnya terjadi perbedaan penetapan awal Ramadhan dan tanggal-tanggal lainnya. NU menggunakan metode rukyah dalam menentukan posisi hilal, Muhammadiyah dan Persis menggunakan metode hisab. Sedangkan Majelis Ulama Indonesia menggunakan kombinasi dari metoda rukyah dan hisab.

Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi Bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada Kalender Hijriyah.
Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (Bulan Baru). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah.
– Wikipedia

Bagaimana dengan kriteria penentuan awal bulan hijriah tersebut ? Di Indonesia (khususnya), ada tiga acuan yang dipakai oleh penganutnya masing-masing. Kriteria tersebut adalah :

  • Rukyatul Hilal, adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari. Kriteria ini digunakan oleh Nahdatul Ulama. Metode hisab tetap digunakan, meskipun hanya sebagai alat bantu dan bukan sebagai penentu masuknya awal bulan Hijriyah.
  • Wujudul Hilal, adalah kriteria penentuan awal bulan Hijriyah dengan prinsip: Jika pada setelah terjadi ijtimak (konjungsi), Bulan terbenam setelah terbenamnya matahari, maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian Bulan saat Matahari terbenam. Kriteria ini digunakan oleh Muhammadiyan dan Persis.
  • Imkanur Rukyat, adalah kriteria penentuan awal bulan Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah, dengan prinsip: Awal bulan (kalender) Hijriyah terjadi jika pada saat matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau pada saat bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.

Di Indonesia, secara tradisi pada petang hari pertama sejak terjadinya ijtimak, yakni setiap tanggal 29 pada bulan berjalan, Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) melakukan kegiatan rukyat, dan dilanjutkan dengan Sidang Itsbat, yang memutuskan apakah pada malam tersebut telah memasuki bulan baru, atau menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari. Rencananya kegiatan BHR ini akan disiarkan secara langsung oleh TVRI pada Selasa sore tanggal 11 September 2007.

Dari uraian yang lumayan panjang (sebenarnya sih uraian yang sangat singkat) di atas dapat diketahui mengapa di Indonesia sering terjadi perbedaan penanggalan Hijriah. Perbedaan tersebut tidak perlu dibesar-besarkan, masing-masing beribadah sesuai keyakinannya. Tidak ada yang salah dengan keyakinan tersebut, yang salah adalah orang-orang yang tidak melaksanakan ibadah, seperti tidak melaksanakan ibadah shaum pada bulan Ramadhan. Sesungguhnya perbedaan adalah rahmat Allah swt yang diberikan kepada umat manusia. Perbedaan adalah berkah yang sudah semestinya dirayakan oleh umat manusia, dan dikembangkan serta dipupuk untuk kemaslahatan mereka. Barangsiapa membenci perbedaan, dan menjadikannya sebagai sarana untuk menebarkan kebencian, maka mereka itu adalah orang-orang yang tak mensyukuri rahmat dan nikmat yang diberikan Allah SWT.

Dari berbagai sumber, terutama Wikipedia


0 Responses to “Awal Ramadhan 1428 H”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Kategori

Pengunjung

Blog Stats

  • 396,678 hits

Yang Lagi Baca Cingciripit

website stats

Yahoo! ID : king_mercury95

Kalendar

September 2007
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Arsip


%d blogger menyukai ini: