16
Agu
07

Penerbangan Negeri Jajahan

(c) BBCBesok, 17 Agustus 2007, usia kemerdekaan Indonesia sudah 62 tahun. Beberapa tokoh terkenal di Indonesia mengatakan bahwa sebenarnya kita belum merdeka, kita masih dijajah oleh bangsa lain, meskipun dengan cara yang berbeda.

Negara kita ini masih sering didikte kebijakannya oleh negara lain, produk luar negeri mendapatkan tempat yang bebas dibandingkan produk lokal. Orang-orangnya pun lebih suka (baca : percaya diri) memakai produk luar negeri walaupun kalau ditelusuri sebenarnya barang tersebut dibuatnya di Indonesia juga😛

Sesuai judul di atas, aku cuma ingin membicarakan sedikiiiiiiit saja dari dunia penerbangan Indonesia. Sudah tahu semua kan bahwa operator penerbangan Indonesia lebih memilih pesawat-pesawat buatan luar negeri meskipun statusnya bekas. Bukan second-hand lagi lho, beberapa pesawat bahkan ada yang sudah sampai ke pihak nomor delapan ketika dipakai oleh operator penerbangan lokal. Memang sih ada juga operator yang mampu membeli pesawat keluaran terbaru, tapi presentasenya tetap saja kalah dengan pesawat bekas.

Kenapa operator lebih memilih pesawat bekas ? Tiada lain perhitungannya karena hukum ekonomi, meraup keuntungan sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya. Persaingan di air-service ini sudah ketat, perang harga tiket sampai kebablasan, hingga keselamatan penumpang agak terabaikan. Bagaimana membuat harga tiket seminimal mungkin tapi operator tidak rugi ? Ya salah satunya dengan membeli pesawat bekas yang harganya tidak semahal pesawat baru dong. Selain itu komponen lain yang membuat harga tiket murah antara lain ditiadakannya snack untuk penerbangan jarak pendek. Mudah-mudahan jangan terjadi yang seperti ini, demi menghemat biaya, proses perawatan pesawat dikurangi atau ditiadakan, hiiii.

Kenapa tidak memilih produk dalam negeri, bukankah Indonesia mempunyai PT Dirgantara Indonesia (dahulu Industri Pesawat Terbang Nusantara). Nah ini dia, PT DI baru bisa membuat pesawat sekelas CN-235 yang daya angkutnya kalah dibandingkan Boeing 737 misalnya. Kalau tetap memaksakan memakai CN-235 ya operator merugi dong, karena dalam sekali angkut cuma sedikit penumbang yang bisa dibawa (baca : ditarik uangnya untuk membeli tiket). CN-235 ini malah banyak dipesan untuk kepentingan militer yang dari tahun ke tahun jumlah pesanannya makin menurun. Belakangan PT DI malah dituntut pailit oleh mantan karyawannya, repoooot.

Kalau melihat rentetan musibah pesawat terbang di awal tahun ini, semakin jelas bagaimana buruknya sistem secara keseluruhan dari dunia penerbangan nasional-tanpa mengenyampingkan bahwa setiap kejadian tersebut sudah menjadi suratan takdir dari Allah SWT.

Tanggal 1 Januari 2007, kita dikejutkan dengan hilangnya pesawat Adam Air yang berangkat dari Surabaya menuju Manado. Sempat tersiar kabar bahwa reruntuhan pesawat ditemukan disebuah bukit, bahkan sampai pejabat di Jakarta menyatakan hal tersebut. Kenyataanya… berita itu tidak benar. Terjadilah saling tunjuk mulai dari pejabat paling tinggi sampai rendah😛 (Apa kata dunia ?) Sampai saat ini pesawat bernomor registrasi PK-KKW tersebut belum dapat diangkat dari dasar lautan.
Sehari kemudian ada kejadian di bandara Pattimura Ambon, pesawat Lion Air tergelincir di landasan. Peristiwa ini dibantah oleh pihak Lion Air. Yang paling menyentak publik adalah ketika pesawat Garuda -operator terbaik nasional- bernomor registrasi PK-GZC terbakar di bandara Adisucipto Yogyakarta. Pesawat ini melosnong dari ujung landasan dan terbakar !

Wah, saking banyaknya kecelakaan yang menimpa pesawat terbang nasional, kayaknya gak cukup untuk dituliskan satu-persatu disini. Tapi ujung dari semua peristiwa itu adalah, seluruh pesawat Indonesia kena cekal, tidak boleh mengudara di angkasa negara-negara Uni Eropa. Arab saudi pun sempat akan mengikuti langkah UE tersebut, walaupun belakangan akhirnya tetap memperbolehkan pesawat Indonesia melintas di Arab Saudi.

Oh iya, pernah ada yang memperhatikan nomor registrasi pesawa-pesawat Indonesia gak ? itu lho yang biasanya tertera di lambung atau bagian bawah sayap pesawat -yang biasanya terdiri dari 6 karakter, PK-ABC. Dimana ABC bisa berganti kode sesuai pesawat dan operator bersangkutan.

“PK-ABC mah lima karakter atuh ?” protes seorang teman. Hehehe, Dash (‘-‘) juga karakter atuh, makanya aku sebutkan jadi enam karakter😛

 

 

Tahu gak apa kepanjangan dari singkatan PK ? Pesawat Komersial ? jelas salah, wong pesawat militer pun memakai kode PK juga. Dulu aku sempat mengira PK ini merupakan singkatan dari Perdana Kusuma, karena waktu itu bandara Halim Perdana Kusuma menjadi pusat lalu lintas udara di Jakarta dan nasional sebelum bandara Soekarno Hatta di Cengkareng dibangun.

PK itu adalah singkatan dari Pay Kolonie, dari Bahasa Belanda yang artinya dalam Bahasa Indonesia kira-kira Penerbangan Negeri Jajahan ! Terkejut ? Ya memang begitu keadaannya. Kode ini sudah dipakai sejak jaman penjajahan Belanda, sebelum Indonesia merdeka.

Pesawat yang terkenal saat itu adalah pesawat dengan nomor PK-KKH, pesawat ini merupakan hasil karya putra pribumi, meskipun rancangannya merupakan hasil karya orang Belanda. Pesawat ini sempat membuat dunia penerbangan internasional terkagum-kagum. Dipiloti seorang Prancis bernama A. Duval, pesawat ini terbang dari Bandung – Cina – Belanda kemudian balik lagi ke Cina.

Balik lagi ke kode PK tadi, setelah Indonesia merdeka beberapa pihak sempat mengajukan perubahan kode PK tadi karena artinya bertolak belakang dengan status Indonesia yang sudah Merdeka. Tapi entah mengapa sampai saat ini kode itu masih dipakai oleh Indonesia. Apa iya tidak ada pejabat yang berwenang saat itu tergerak hatinya untuk memperjuangkan perubahan kode ini. Apakah sangat rumit untuk merubah kode yang sudah terlanjur dikenal bahwa kode tersebut adalah kode penerbangan Indonesia ? (Negara Muangthai saja bisa melakukan perubahan nama Negara menjadi Thailand, begitu juga Burma menjadi Myanmar). Atau… masih tetap ingin dikenal sebagai Penerbangan Negara Jajahan ? (Btw, berapa banyak sih yang tahu kalau PK itu singkatan dari Pay Kolonie alias penerbangan negeri jajahan ?)

 

MERDEKA ?


5 Responses to “Penerbangan Negeri Jajahan”


  1. Minggu, 19-Agustus-2007 pukul 10:20 am

    Huih~ blog-nya ‘resmi’ banget yak ahahaha… masukin links aku doong -kaya’ ada orang kantoran mau ngebaca soal artis jepang ga terkenal huahaha- …

    Slameett.. akhirnya Kang Didiet dah punya mblog ^_^ …

  2. Kamis, 22-November-2007 pukul 5:22 pm

    Sebelumnya ga pernah perhatikan dan ingin tahu kepanjangan PK itu. Eh.. setelah tau koq begitu. Mungkin para pejabat itu berpikir ‘apalah arti sebuah nama’.. Yah, sgt identik dgn ‘org Indonesia’.

  3. 4 antikolonie
    Sabtu, 27-September-2008 pukul 4:38 pm

    Bukannya “Post Kolonie” ya?
    “Bekas Jajahan” artinya udah nggak dijajah lagi dong ya..
    MERDEKA!!! MERDEKA!!! MERDEKA!!!

    Psst..
    Jangan suka sangkut-pautkan dengan yang tidak-tidak.
    Nanti dikira masih suka dijajah lho..

  4. Senin, 13-Oktober-2008 pukul 8:21 am

    Kalau aku sih lebih meyakini Pay Kolonie, karena kode ini sudah dipakai sejak negeri ini masih dikenal sebagai Hindia Belanda.

    Mungkin ada informasi yang lebih uptodate mengenai kode PK ini, silakan disharing disini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Kategori

Pengunjung

Blog Stats

  • 396,745 hits

Yang Lagi Baca Cingciripit

website stats

Yahoo! ID : king_mercury95

Kalendar

Agustus 2007
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Arsip


%d blogger menyukai ini: